Desain rumah dengan lantai mezzanine yang mungil

Perluasan ruang tanpa membobol dinding dan melepas atap. tiga tahun lalu Annisa Chika dan keluarganya berencana menempati rumah baru hasil renovasi di kawasan Simprug, Jakarta. Rika Mayasari dan Chandra Novriadi, orang tua Chika, merombak rumah bergaya mediteranian mereka menjadi rumah baru yang lebih modern. Chika sangat bersemangat ketika itu.

Dalam bayangannya, ia akan mendapat kamar tidur baru yang lebih luas. Sebuah kamar di lantai dua yang berukuran 3,6mx3,5m. Namun ternyata kamar itu belum cukup luas untuk Chika. “Kebayang, kalau ditaruh tempat tidur dan barang-barang lain jadi sempit rasanya,” kata Chika, siswi kelas 1 SMA itu. Suatu hari, ketika sedang membaca majalah remaja, Chika menemukan artikel menarik mengenai rumah dengan lantai mezzanine.

Artikel itu memberinya inspirasi. la kemudian membuat sketsa, membayangkan kamar yang akan ditempatinya mempunyai lantai mezanin. “Aku buat sendiri desain rumah dengan lantai mezzanine cuma pakai pensil dan kertas aja,” tutur Chika. Rika rupanya melihat sketsa kamar dengan mezanin yang dibuat putrinya. la berkonsultasi dengan kontraktor kenalannya untuk mewujudkan sketsa Chika itu menjadi kenyataan.

Membuat lantai loteng

Chika beruntung memiliki kamar dengan plafon yang tinggi, Ketinggiannya 3m sehingga dapat di bangun lantai loteng untuk ruang baru. Plafon lama dibongkar dan dibagian bawah atap ditutup dengan papan agar rangka tidak terlihat. Setelah dirombak, tinggi plafon bertambah menjadi 4,7m. Konstruksi lantai loteng yang menjadi mezanin terbuat dari rangka dari balok induk dari besi H beam dan balok anak dari besi hollow.

Balok besi tersebut ditempel dan diikat ke dinding dengan menggunakan dynabolt (mur dan baut besi). Balok H beam dibungkus dengan papan biasa yang dicat. Di atas balok 11 beam dipasang lantai papan plywood yang berlapis parket. Luas lantai baru yang dihasilkan adalah 3,5cmx2,3cm. Sementara itu, railing yang terbuat dari bilah kayu kasau yang dicat putih dipasang dan dijajarkan di atas balok besi. Railing area mezanin dihubungkan ke tangga. Agar nyaman, handrail pada railing ditutup kayu yano di ampelas halus.

Kalau Anda perhatikan, struktur seperti itu bukan hanya menghemat waktu, namun juga mengurangi bahan bangunan. Itu karena lantai tidak memerlukan kolom atau fondasi baru, Di lantai baru, Chika menempatkan meja beajar dan matras. Matras hanya dihampar, bukan ditempatkan di ranjang. Selain itu, Chika memang tidak menambah furnitur lain yang dapat membuat sesak ruangan,

Tangga dan lemari built in

Akses menuju lantai loteng menggunakan tangga dengan konstruksi besi siku dan hollow. Tangga terdiri dari delapan pijakan yang lebarnya hanya 75cm atau lebih pendek 25cm dari ukuran lebar standar 9Ocm. Di sini, lebar tangga disesuaikan dengan luas ruangan dan kenyamanan Chika. Kolong tangga berukuran 23Ocmx70cm diisi dengan lemari pakaian built in. Lantai kamar yang lama berfungsi sebagai area bermain.

Ada televisi, meja rias, karpet, dan kursi lipat pendek. Tidak ada furnitur berukuran besar dan tinggi. lni cukup sesuai dengan keadaan ruang yang plafonnya rendah. Pasca renovasi, jarak celling ke plafon di lantai dasar menjadi 2,3m. Di pojok lantai kamar, terdapat kamar mandi berukuran 2,4mx1,8m. Dinding shower dan top table nya dilapis mozaik dengan komblnasi gradasi warna pink.

Lantai, kabinet, serta santernya berwarna putih. Kesannya clean dan higienis. Baik lantai kamar maupun loteng tampil dengan warna pink sebagai warna utama. Chika yang memilih warna ini. Aplikasinya mulai dari cat dinding, mozalk keramik kamar mandi, hingga aksesori kamar. Kini Chika dapat berbangga hati. Kalau dulu ia hanya membayangkan kamar dengan mezanin dari sebuah skesta, kini ia sudah dapat mewujudkannya.-)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *